UIN Jakarta Akselerasi Hilirisasi Riset dan Inovasi Berdampak
Rektorat, LP2M Online – Hilirisasi hasil penelitian menjadi salah satu langkah strategis untuk memastikan inovasi perguruan tinggi tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi berlanjut menjadi produk dan solusi yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Komitmen tersebut mengemuka dalam kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) hilirisasi riset oleh Litapdimas Kementerian Agama Republik Indonesia di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Bertempat di Ruang Rapat Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Jakarta, kegiatan ini menjadi momentum untuk meninjau perkembangan hasil penelitian yang berpotensi dikembangkan lebih lanjut, sekaligus memperkuat arah penelitian perguruan tinggi keagamaan Islam agar semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat dan pemangku kepentingan.
Kegiatan monev di UIN Jakarta dihadiri Ketua LP2M Prof. Amelia Fauzia, Ph.D., Sekretaris LP2M Dr. Fathudin, S.HI., S.H., M.A.Hum., M.H., Kasubdit Litapdimas Kementerian Agama RI Dr. Nur Kafid, S.Th.I., M.Sc., serta para peneliti UIN Jakarta, yakni Prof. Dr. La Ode Sumarlin, M.Si., Prof. dr. Flori Ratna Sari, Ph.D., dan Khodijah Hulliyah, M.Si., Ph.D.
Ketua LP2M UIN Jakarta Prof. Amelia Fauzia, Ph.D., dalam sambutannya mengungkapkan bahwa hasil riset UIN Jakarta yang mengarah pada hilirisasi terus menunjukkan perkembangan positif. Pada 2026, UIN Jakarta telah memiliki empat paten, sementara dua paten lainnya masih dalam proses. Capaian tersebut menunjukkan perkembangan upaya perlindungan kekayaan intelektual atas hasil inovasi yang dihasilkan sivitas akademika.
“Alhamdulillah, hasil riset UIN Jakarta yang mengarah ke hilirisasi saat ini semakin menguat. Untuk tahun ini, UIN Jakarta sudah memiliki empat paten dan dua lainnya sedang dalam proses,” ujar Amelia.
Menurutnya, potensi hilirisasi riset UIN Jakarta terlihat dari beragam produk yang dikembangkan. Inovasi tersebut tidak terbatas pada satu bidang, tetapi mencakup produk konsumsi, produk perawatan kulit (skin care), dan berbagai kebutuhan lainnya. Keragaman ini memperlihatkan peluang penerapan hasil penelitian dalam berbagai aspek kehidupan.
Amelia menegaskan, potensi produk hasil riset UIN Jakarta juga tidak semestinya hanya dilihat dalam lingkup kebutuhan domestik. Dengan pengembangan yang tepat, inovasi yang dihasilkan berpeluang menjangkau pasar dan pengguna di tingkat internasional.
“Produk-produk yang dimiliki UIN Jakarta cukup beragam, mulai dari barang konsumsi, produk skin care, dan kebutuhan lainnya. Produk-produk tersebut tidak hanya layak digunakan di Indonesia, tetapi juga berpotensi dikembangkan untuk tingkat dunia,” jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, Kasubdit Litapdimas Kementerian Agama RI Dr. Nur Kafid, S.Th.I., M.Sc., menekankan pentingnya hilirisasi sebagai bagian dari penguatan pelaksanaan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI/PTKIN).
Ia menjelaskan bahwa hilirisasi menjadi perhatian yang semakin berkembang dalam pengelolaan program Litapdimas. Pada tahun-tahun sebelumnya, aspek ini belum diatur secara terperinci dalam regulasi. Karena itu, penguatan hilirisasi menjadi langkah penting agar hasil penelitian memiliki arah pemanfaatan yang lebih jelas.
“Hilirisasi merupakan hal baru di Litapdimas karena pada tahun-tahun sebelumnya belum diatur secara detail dalam regulasi. Padahal, hilirisasi menjadi bagian penting karena dampaknya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat maupun stakeholder,” ungkap Nur Kafid.
Menurutnya, penelitian di lingkungan PTKI/PTKIN memiliki potensi besar untuk menghasilkan inovasi yang tidak hanya berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat digunakan oleh publik. Potensi tersebut perlu diikuti dengan upaya pengembangan dan penerapan agar hasil penelitian mampu menjawab persoalan nyata di tengah masyarakat.
Dengan demikian, keberhasilan penelitian tidak hanya dilihat dari capaian akademik, tetapi juga dari sejauh mana hasilnya dapat diimplementasikan. Produk, teknologi, maupun model yang dikembangkan melalui penelitian perlu memiliki peluang untuk diterapkan, dikembangkan, dan memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan.
“Ke depan, tagihan di Litapdimas tidak hanya sebatas akademiknya saja, melainkan juga harus mengarah pada hal-hal yang bersifat implementatif bagi stakeholder,” tegasnya.
Lebih lanjut, Nur Kafid menyampaikan bahwa berbagai produk inovasi sains dan hasil riset terapan karya sivitas akademika PTKI/PTKIN akan dipamerkan dalam ajang AICIS+ 2026. Pameran ini menjadi kesempatan untuk memperkenalkan hasil inovasi dari perguruan tinggi keagamaan Islam kepada khalayak yang lebih luas.
Kehadiran produk hasil riset dalam forum tersebut juga dapat menjadi sarana untuk menunjukkan bahwa perguruan tinggi keagamaan Islam memiliki potensi kontribusi yang melampaui pengembangan kajian akademik.
“Melalui riset terapan, sivitas akademika dapat menghasilkan inovasi yang berpeluang menjawab kebutuhan praktis dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” tambahnya
Pada kesempatan yang sama, para peneliti UIN Jakarta memaparkan hasil riset yang dikembangkan menuju hilirisasi. Dua inovasi yang diperkenalkan adalah alat deteksi halal portabel berbasis sensor cerdas molekuler dan electronic nose (e-nose) karya Prof. dr. Flori Ratna Sari, Ph.D., serta Madu Q-UIN yang dikembangkan Prof. Dr. La Ode Sumarlin, M.Si., bersama tim peneliti.
Prof. Flori menjelaskan, alat deteksi halal portabel yang dikembangkannya dirancang untuk mendukung pemeriksaan produk secara praktis. Salah satu keunggulannya terletak pada kit sensor molekuler yang mampu mendeteksi DNA babi secara cepat dan akurat, bahkan ketika sampel mengalami pengenceran hingga 100.000 kali.
“Dengan pengenceran 100.000 kali, kit portabel kami masih dapat mendeteksi DNA babi dengan cepat, mudah dan akurat walaupun dengan pendekatan kualitatif. Ini akan memudahkan auditor halal di lapangan maupun masyarakat yang ingin mendapat jaminan halal,” ujar Prof. Flori.
Inovasi ini berpotensi mendukung proses pemeriksaan halal, khususnya dalam mengidentifikasi keberadaan DNA babi pada sampel yang diuji. Pengembangan perangkat portabel juga diharapkan dapat memudahkan proses pemeriksaan di lapangan, sesuai dengan prosedur dan kebutuhan pengguna.
Selain teknologi deteksi halal, UIN Jakarta mengembangkan Madu Q-UIN, inovasi berbasis riset yang dipimpin Prof. La Ode Sumarlin dari Fakultas Sains dan Teknologi UIN Jakarta.
Pengembangan Madu Q-UIN berkaitan dengan penelitian mengenai karakteristik dan autentikasi madu, termasuk upaya mengidentifikasi potensi pemalsuan atau pencampuran madu dengan bahan lain. Riset ini turut didukung sejumlah inovasi, antara lain SIMA Q-UIN G1 sebagai sensor pendeteksi madu oplosan, Blockchain Tracer Madu Asli, serta Atlas Komponen Bioaktivitas Madu.
Bagi UIN Jakarta, hilirisasi menjadi langkah penting untuk membawa hasil penelitian melampaui ruang akademik. Ke depan, penguatan pengembangan produk, perlindungan kekayaan intelektual, dan kolaborasi dengan industri menjadi kunci agar inovasi tersebut tidak berhenti sebagai prototipe atau hasil penelitian, tetapi tumbuh menjadi produk yang digunakan, dipercaya, dan memiliki nilai ekonomi.
