Tak Sekadar Edukasi, KKN Abhinaya 153 Hadirkan Aksi Nyata Pengolahan Sampah lewat Eco-Enzyme
Tak Sekadar Edukasi, KKN Abhinaya 153 Hadirkan Aksi Nyata Pengolahan Sampah lewat Eco-Enzyme

WhatsApp Image 2026-09-10 at 12.23.09

Ciomas, Laladon, BERITA PPM Online – Permasalahan pencemaran air dan pengelolaan sampah rumah tangga masih menjadi tantangan lingkungan di RW 02, Desa Laladon, Ciomas. Kondisi tersebut mendorong KKN Abhinaya Kelompok 153 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk menghadirkan program edukasi dan praktik pengolahan sampah organik melalui pembuatan eco-enzyme.

Mengusung tagline “Kelola Sampah, Selamatkan Lingkungan: Aksi Nyata Lewat Eco-Enzyme”, kegiatan tersebut dilaksanakan pada Minggu (9/8/2026) dengan melibatkan masyarakat setempat. Program ini menjadi salah satu bentuk kepedulian mahasiswa KKN terhadap kondisi lingkungan sekaligus upaya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola limbah rumah tangga.

Program Eco-Enzyme Workshop dilatarbelakangi oleh kondisi Desa Laladon yang masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Sampah organik yang belum dikelola secara optimal berpotensi menimbulkan pencemaran apabila terus menumpuk. Selain itu, pemanfaatan limbah rumah tangga menjadi produk yang bermanfaat juga masih perlu diperkenalkan kepada masyarakat.

Melalui kegiatan tersebut, KKN Abhinaya 153 memberikan edukasi sekaligus pengalaman praktik kepada masyarakat mengenai pengolahan sampah organik menjadi eco-enzyme. Mahasiswa berharap keterampilan tersebut dapat mendorong masyarakat untuk mengolah limbah rumah tangga secara mandiri serta memanfaatkannya menjadi produk yang ramah lingkungan dan memiliki nilai guna.

Workshop berlangsung sejak pagi hari dan diikuti sekitar 35 peserta yang terdiri atas mahasiswa KKN Abhinaya 153, ibu-ibu rumah tangga, serta pengurus Majelis Ta'lim Nurul Akhyar. Para peserta turut mempraktikkan proses pengolahan sampah organik rumah tangga, seperti kulit buah dan sisa sayuran, menjadi cairan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembersih alami.

Dalam praktiknya, pembuatan eco-enzyme menggunakan perbandingan 3:1:10, yakni tiga bagian sampah organik, satu bagian gula merah atau molase, dan sepuluh bagian air. Campuran tersebut kemudian difermentasi selama tiga bulan. Bahan organik yang digunakan dalam kegiatan antara lain kulit jeruk, kulit nanas, dan sisa sayuran.

Selain diperkenalkan sebagai cairan pembersih alami, hasil fermentasi eco-enzyme juga diperkenalkan sebagai salah satu bahan yang dapat dimanfaatkan dalam pembuatan detergen ramah lingkungan. Produk tersebut dibuat dengan memanfaatkan hasil eco-enzyme yang dipadukan dengan Carboxyl Methyl Cellulose (CMC), Sodium Lauryl Sulfonate (SLS), dan soda ash.

Antusiasme peserta terlihat selama proses praktik berlangsung. Ibu-ibu rumah tangga yang mengikuti kegiatan turut aktif dalam setiap tahapan pembuatan eco-enzyme. Bahkan, beberapa peserta menyampaikan rencana untuk mencoba memproduksinya secara mandiri di rumah.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pengaplikasian eco-enzyme yang telah melalui proses fermentasi selama tiga bulan pada saluran air di sekitar lingkungan warga. Pengaplikasian tersebut dilakukan sebagai bagian dari aksi nyata kepedulian terhadap kebersihan lingkungan sekaligus memberikan contoh langsung mengenai pemanfaatan eco-enzyme.

Melalui kegiatan ini, KKN Abhinaya 153 berupaya menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya diwujudkan melalui edukasi, tetapi juga melalui tindakan nyata bersama masyarakat. Pengolahan sampah organik menjadi eco-enzyme diharapkan dapat menjadi langkah sederhana yang mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap pengelolaan sampah dan kebersihan lingkungan.

Penulis: Pingkan Amelia
Editor: Annisa Khafi Rabbani