Sisa Sayur Tak Lagi Terbuang, KKN 260 SORAYA Ajak Warga Kedaung Barat Belajar Membuat Ekoenzim
Sisa Sayur Tak Lagi Terbuang, KKN 260 SORAYA Ajak Warga Kedaung Barat Belajar Membuat Ekoenzim

WhatsApp Image 2026-08-11 at 17.36.50

Kedaung Barat, BERITA PPM Online – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler 260 SORAYA Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Sosialisasi dan Pelatihan Ekoenzim bagi masyarakat Desa Kedaung Barat, Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Selasa (4/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Mushola Al-Muhajirin RT/RW 03/04 tersebut diikuti oleh 30 warga dari RT/RW 002/004 dan RT/RW 003/004. Kegiatan turut dihadiri Ketua Karang Taruna, Indra, serta Ketua RT 003, Umar Faruq. Sosialisasi dan pelatihan ini menjadi salah satu upaya mahasiswa KKN dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan sampah organik yang dapat dilakukan secara sederhana dari lingkungan rumah tangga.

Kegiatan tersebut dilatarbelakangi oleh banyaknya sampah organik yang berasal dari aktivitas rumah tangga, khususnya sisa sayuran dan kulit buah. Bahan-bahan yang umumnya dibuang tersebut sebenarnya masih dapat dimanfaatkan kembali melalui proses pengolahan yang tepat, salah satunya menjadi ekoenzim.

Ekoenzim merupakan larutan zat organik kompleks yang dihasilkan melalui proses fermentasi sisa bahan organik, gula, dan air. Melalui proses tersebut, sisa sayuran dan kulit buah yang sebelumnya menjadi limbah dapat diolah menjadi produk yang memiliki berbagai kegunaan.

Melihat potensi tersebut, KKN 260 SORAYA memberikan pengetahuan sekaligus keterampilan praktis kepada masyarakat mengenai pembuatan ekoenzim. Materi yang diberikan mencakup pengertian ekoenzim, bahan yang digunakan, perbandingan bahan, tahapan pembuatan, proses fermentasi, ciri-ciri ekoenzim yang berhasil, hingga pemanfaatan hasil fermentasi.

Penyampaian materi dan praktik dipandu oleh Ajeng Artiprilian Cahyani selaku PIC Program Kerja Ekoenzim KKN 260 SORAYA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dalam praktiknya, masyarakat diperkenalkan pada perbandingan bahan 3:1:10, yakni tiga bagian sampah organik, satu bagian gula, dan sepuluh bagian air.

Bahan organik yang digunakan dapat berasal dari sisa sayuran dan kulit buah segar. Gula berfungsi sebagai sumber makanan bagi mikroorganisme selama proses fermentasi, sedangkan air digunakan sebagai campuran dalam proses pembuatan ekoenzim.

Selain mengenalkan komposisi bahan, masyarakat juga diberikan pemahaman mengenai penggunaan wadah dalam proses fermentasi. Wadah yang digunakan disarankan berbahan plastik dan tidak diisi hingga penuh karena proses fermentasi menghasilkan gas. Wadah perlu menyisakan ruang sekitar 20 persen dan dibuka secara berkala untuk mengeluarkan gas yang terbentuk selama proses fermentasi.

Proses fermentasi ekoenzim berlangsung kurang lebih selama tiga bulan. Pada bulan pertama, proses menghasilkan alkohol, kemudian memasuki bulan kedua menghasilkan asam atau cuka, dan pada bulan ketiga ekoenzim sudah dapat digunakan. Ekoenzim yang baik umumnya memiliki aroma asam segar khas fermentasi serta memiliki tingkat keasaman atau pH di bawah 4.

Tidak hanya cairan hasil fermentasi, ampas yang dihasilkan setelah proses penyaringan juga masih dapat dimanfaatkan. Ampas tersebut dapat digunakan sebagai kompos maupun membantu proses fermentasi berikutnya. Sementara itu, hasil olahan ekoenzim juga diperkenalkan memiliki sejumlah pemanfaatan, di antaranya sebagai cairan pembersih lantai, desinfektan, insektisida, serta cairan yang dapat membantu membersihkan saluran pembuangan air.
Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai pengolahan sampah organik, tetapi juga diajak melihat kembali potensi bahan-bahan yang selama ini dianggap sebagai limbah. Sisa sayuran dan kulit buah yang berasal dari aktivitas sehari-hari dapat dikumpulkan dan diolah sehingga memiliki nilai guna kembali.

Bagi KKN 260 SORAYA, edukasi mengenai ekoenzim menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Kedaung Barat terhadap pentingnya pengelolaan sampah organik. Pengolahan yang dilakukan dari lingkungan rumah tangga diharapkan dapat menjadi kebiasaan sederhana yang memberikan dampak positif terhadap lingkungan.

Kegiatan tersebut juga diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk tidak langsung membuang seluruh sampah organik yang dihasilkan dari aktivitas rumah tangga. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang telah diberikan, warga dapat mulai memilah dan memanfaatkan sisa sayuran serta kulit buah untuk diolah menjadi produk yang lebih bermanfaat dan ramah lingkungan.

Melalui Sosialisasi dan Pelatihan Ekoenzim, KKN 260 SORAYA UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berupaya menghadirkan edukasi yang dapat diterapkan secara langsung oleh masyarakat. Pemanfaatan sampah organik menjadi ekoenzim diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan selama kegiatan berlangsung, tetapi dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mahasiswa untuk mendorong masyarakat Kedaung Barat membangun kebiasaan pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab. Dari sisa sayuran dan kulit buah yang sederhana, masyarakat dapat belajar bahwa sampah organik masih memiliki potensi untuk diolah dan dimanfaatkan kembali.

Penulis: Anisa Tri Wulandari
Editor: Annisa Khafi Rabbani

WhatsApp Image 2026-08-11 at 17.36.49