KKN 102 UIN Jakarta Angkat Kisah UMKM Keranggan yang Bertahan Sejak Krisis Moneter
KKN 102 UIN Jakarta Angkat Kisah UMKM Keranggan yang Bertahan Sejak Krisis Moneter

WhatsApp Image 2026-08-08 at 09.56.38

Tangerang Selatan, Berita PPM Online — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Kelompok 102 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melakukan pendataan dan wawancara terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kelurahan Keranggan, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, Banten, pada Jumat (31/7/2026). Salah satu UMKM yang menjadi bagian dari pendataan tersebut adalah usaha makanan ringan milik Rohati yang telah bertahan sejak masa krisis moneter 1998.

Pendataan dan wawancara dilakukan sebagai bagian dari upaya mahasiswa KKN Kelompok 102 dalam mengenali serta mendokumentasikan potensi usaha masyarakat di Kelurahan Keranggan. Informasi yang dihimpun nantinya akan digunakan sebagai bagian dari pengembangan media informasi digital mengenai berbagai potensi yang dimiliki wilayah tersebut.

Rohati merintis usaha makanan ringan pada 1998 sebagai upaya membantu perekonomian keluarga ketika kondisi ekonomi sedang mengalami krisis. Seiring berjalannya waktu, usaha tersebut mulai berkembang pada 2000 dan kemudian diteruskan secara turun-temurun oleh keluarganya.

“Awalnya kami memulai usaha ini saat krisis moneter tahun 1998 karena kondisi ekonomi sedang sulit. Alhamdulillah, mulai tahun 2000 usaha ini berkembang dan sampai sekarang diteruskan oleh keluarga,” tutur Rohati.

Usaha rumahan tersebut memproduksi berbagai jenis makanan ringan tradisional, di antaranya keripik singkong, keripik jalon, keripik terigu, keripik pisang, rengginang, kembang goyang, dan jipang. Produksi sejumlah makanan ringan tersebut biasanya mengalami peningkatan menjelang Hari Raya Idulfitri seiring meningkatnya permintaan pelanggan.

“Kalau menjelang Lebaran, permintaan biasanya meningkat. Kami juga membuat jipang lebih banyak karena banyak dicari pelanggan,” ungkap Rohati.

Untuk penjualan eceran, sejumlah produk seperti rengginang, kembang goyang, keripik terigu, keripik jalon, dan keripik pisang dipasarkan dengan harga Rp6.000 per bungkus. Sementara itu, beberapa produk yang dijual dalam kemasan kilogram memiliki harga berbeda, antara lain kembang goyang, keripik pisang, keripik singkong balado, dan keripik terigu seharga Rp70.000 per kilogram. Adapun keripik singkong dijual dengan harga Rp60.000 per kilogram.

Bagi Rohati, menjaga kualitas produk menjadi salah satu hal penting dalam mempertahankan kepercayaan pelanggan. Konsistensi rasa menjadi perhatian agar pelanggan tetap memilih dan membeli produk yang dihasilkan.

“Kami selalu berusaha menjaga kualitas rasa supaya pelanggan tetap percaya dan terus membeli produk kami,” katanya.

Pendataan terhadap usaha Rohati menjadi bagian dari program kerja KKN Reguler Kelompok 102 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk mengembangkan media informasi digital mengenai potensi Kelurahan Keranggan. Melalui pendataan tersebut, mahasiswa tidak hanya mengumpulkan informasi mengenai produk dan perjalanan usaha, tetapi juga mendokumentasikan keberadaan UMKM sebagai bagian dari potensi ekonomi masyarakat setempat.

Informasi mengenai usaha Rohati selanjutnya akan menjadi salah satu konten dalam website yang dikembangkan mahasiswa KKN. Website tersebut juga akan dilengkapi dengan titik lokasi usaha melalui Google Maps sehingga masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai UMKM sekaligus menemukan lokasi usaha dengan lebih mudah.

Melalui program tersebut, KKN Reguler Kelompok 102 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berupaya memperkenalkan potensi UMKM Kelurahan Keranggan melalui pemanfaatan media digital. Dokumentasi dan penyebaran informasi mengenai usaha masyarakat diharapkan dapat membantu meningkatkan visibilitas UMKM sekaligus memperkenalkan potensi ekonomi lokal kepada masyarakat yang lebih luas.

Penulis: Silmi Kaffah
Editor: Vanessa Nindi Utama