Dari Pohon hingga Biopori, KKN 290 Narasanka UIN Jakarta Hijaukan Desa Sukanagara
Dari Pohon hingga Biopori, KKN 290 Narasanka UIN Jakarta Hijaukan Desa Sukanagara

Tangerang, BERITA PPM ONLINE – Lingkungan yang hijau tidak hadir hanya karena banyaknya tanaman. Di dalamnya juga terdapat kepedulian, kebiasaan menjaga alam, serta keterlibatan masyarakat dalam merawat area tempat mereka hidup. Gagasan tersebut diwujudkan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) 290 Narasanka UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melalui program Green Zone dan Biopori di Desa Sukanagara, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten.

Kegiatan yang dilaksanakan pada 21 Agustus 2026 pukul 13.00–16.00 WIB tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa KKN UIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk menciptakan lingkungan desa yang lebih asri, sehat, dan berkelanjutan. Program ini tidak hanya berfokus pada penanaman bibit, tetapi juga memperkenalkan biopori sebagai bagian dari pengelolaan lingkungan dan sampah organik.

Berdasarkan kondisi yang ditemukan di Desa Sukanagara, masih terdapat persoalan lingkungan berupa terbatasnya tempat sampah serta kondisi desa yang masih tergolong gersang. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa KKN 290 Narasanka untuk memilih tema lingkungan sebagai salah satu fokus kegiatan.

Melalui kegiatan penghijauan, mahasiswa berharap dapat memberikan dampak langsung sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat agar ikut menjaga dan merawat lingkungan. Penghijauan juga diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang, seperti menciptakan lingkungan yang lebih asri, mengurangi risiko kerusakan lingkungan, meningkatkan kualitas udara, serta menumbuhkan budaya gotong royong dan kepedulian terhadap alam.

Program Green Zone dilaksanakan di Kantor Desa Baru Sukanagara. Kegiatan diawali dengan acara seremonial penanaman bibit yang dilakukan oleh perangkat desa sebagai simbol dimulainya program Aksi Hijau. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan penanaman secara bersama-sama yang melibatkan mahasiswa KKN, perangkat desa, ibu-ibu PKK, serta masyarakat di lokasi yang telah ditentukan.

Sebanyak 60 tanaman ditanam dalam kegiatan tersebut. Jenis tanaman yang digunakan cukup beragam, antara lain ketapang laut, pohon sengon, pohon jeruk nipis, kamboja, jahe, pinang merah, pohon mahoni, dan pohon kelor. Selain penanaman, kegiatan juga mencakup penataan serta pemeliharaan area tanam agar bibit yang telah ditanam dapat tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.

Sebanyak 17 mahasiswa KKN dan sekitar 30 warga terlibat dalam kegiatan tersebut. Perangkat desa dan ibu-ibu PKK turut menjadi bagian dari pelaksanaan kegiatan. Kehadiran Sekretaris Desa beserta jajaran dan staf perangkat desa menunjukkan dukungan pemerintah desa terhadap kegiatan penghijauan tersebut.

Penanaman pohon menjadi lebih dari sekadar kegiatan simbolis. Di lokasi yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal, kehadiran bibit tanaman membuat lingkungan menjadi lebih hijau, asri, dan tertata. Kegiatan tersebut juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk terlibat secara langsung dalam menjaga lingkungan bersama mahasiswa.

Dukungan terhadap kegiatan tersebut turut disampaikan oleh Didih Hamidi selaku Kaur Perencanaan Desa Sukanagara. Ia mengapresiasi kegiatan yang dilakukan mahasiswa KKN UIN Syarif Hidayatullah Jakarta serta berharap kesadaran masyarakat untuk menanam dan merawat tanaman hijau dapat terus berkembang.

Selain penanaman pohon, mahasiswa KKN 290 Narasanka juga menghadirkan kegiatan pembuatan biopori di Taman Kantor Desa Baru. Pembuatan biopori dilakukan dengan membuat satu lubang biopori yang dilengkapi pipa sebagai sarana untuk mengelola sampah organik.

Pembuatan biopori dilakukan oleh mahasiswa KKN pada Jumat, 21 Agustus 2026. Pipa terlebih dahulu dilubangi menggunakan bor, kemudian dipasang ke dalam tanah di area taman. Peralatan yang digunakan terdiri atas pipa biopori, penutup pipa, bor, dan gergaji.

Menurut penanggung jawab kegiatan biopori, Abdul Muiz Alfatih, biopori diperlukan di area taman desa agar tanah menjadi lebih subur. Pipa tersebut juga dirancang sebagai langkah keberlanjutan setelah mahasiswa meninggalkan lokasi KKN karena dapat diisi dengan sampah organik yang kemudian dibiarkan terurai menjadi kompos.

Konsep tersebut dilanjutkan melalui pemanfaatan sampah organik yang berasal dari sampah dapur atau rumah tangga, terutama sisa makanan. Sampah organik dimasukkan ke dalam pipa biopori dan kemudian didiamkan selama sekitar satu hingga dua bulan hingga mengalami proses penguraian menjadi kompos.

Pada saat kegiatan berlangsung, kompos tersebut belum selesai sehingga belum terdapat hasil kompos yang dapat digunakan. Pipa biopori berukuran 70 sentimeter dan apabila terisi penuh diperkirakan mampu menampung sekitar 2–3 kilogram sampah organik. Pemanfaatan kompos setelah proses penguraian selesai juga belum ditentukan secara spesifik.

Sebelum pembuatan biopori, masyarakat mendapatkan sosialisasi mengenai kesadaran terhadap sampah, termasuk pemahaman mengenai biopori. Melalui kegiatan tersebut, warga memperoleh pengetahuan mengenai jenis sampah yang dapat dimanfaatkan. Masyarakat kemudian mulai memilah sampah organik yang akan dimasukkan ke dalam pipa biopori.

Berdasarkan kegiatan yang telah dilaksanakan, beberapa dampak yang terlihat antara lain lingkungan menjadi lebih bersih karena sampah organik mulai dikelola melalui biopori, munculnya ruang hijau baru di area taman, serta bertambahnya pengetahuan warga mengenai pengelolaan sampah dan biopori.

Keberlanjutan program juga mendapat dukungan dari pemerintah Desa Sukanagara. Sekretaris Desa Sukanagara, M. Suryadi, menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan sosialisasi dan menekankan pentingnya kesadaran warga dalam merawat fasilitas serta tanaman yang telah dibuat dan ditanam.

Ia juga menyampaikan bahwa program Green Zone akan ditindaklanjuti kepada masyarakat. Tanaman yang telah ditanam diharapkan dapat dirawat bersama oleh perangkat desa, RT, dan RW sehingga manfaatnya dapat terus dirasakan setelah mahasiswa KKN meninggalkan Desa Sukanagara.

Sementara itu, Dedeh Kurniasih selaku Ketua Pokja 3 sekaligus warga Desa Sukanagara menyampaikan komitmennya untuk menjaga tanaman yang telah ditanam mahasiswa KKN. Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan program penghijauan tidak berhenti setelah kegiatan selesai.

Program biopori yang saat ini baru dimulai dari satu lubang juga diharapkan dapat dikembangkan di kemudian hari. Salah satu gagasan keberlanjutan yang diusung adalah kampanye “Satu Rumah Minimal Satu Biopori”. Dengan semakin banyak lubang biopori, sampah organik diharapkan dapat lebih banyak dikelola sekaligus mendukung kesuburan tanah.

Aksi Hijau KKN 290 Narasanka di Desa Sukanagara menunjukkan bahwa penghijauan dapat dimulai dari langkah sederhana. Penanaman 60 bibit menjadi upaya menambah ruang hijau, sementara biopori menjadi bagian dari pengelolaan sampah organik dan tanah.

Keberhasilan program tersebut tidak hanya dilihat dari banyaknya bibit yang ditanam atau satu lubang biopori yang dibuat, tetapi juga dari keberlanjutan perawatan dan pemanfaatannya. Karena itu, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting agar tanaman terus dirawat, kebiasaan memilah sampah semakin berkembang, dan biopori dapat terus digunakan.

Dari pohon hingga biopori, Aksi Hijau KKN 290 Narasanka di Desa Sukanagara bukan hanya tentang kegiatan satu hari, tetapi juga tentang upaya menanam kebiasaan untuk menjaga lingkungan agar tetap hijau dan lestari.

Penulis: Salsabila Naylah Safitri
Editor: Vanessa Nindi Utama

WhatsApp Image 2026-08-31 at 22.12.37 (1)