Dari Pembukuan hingga Shopee, KKN Kolaborasi Tiga UIN Dorong UMKM Abon Lele Pringtutul Go Digital
Kebumen, BERITA PPM Online — Kelompok 113 KKN Kolaborasi yang melibatkan UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung memberikan pelatihan manajemen usaha dan digital marketing kepada pengelola UMKM Abon Lele di Desa Pringtutul, Kecamatan Rowokele, Kabupaten Kebumen, Minggu (16/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa mendukung penguatan kembali usaha lokal melalui pengelolaan keuangan yang lebih tertata dan pemanfaatan media digital sebagai sarana pemasaran.
UMKM Abon Lele Desa Pringtutul dikelola oleh kelompok ibu-ibu yang sebelumnya beranggotakan sekitar 16 orang. Usaha tersebut sempat berjalan dan melakukan kegiatan produksi, termasuk setelah memperoleh bantuan peralatan dari Dinas Perikanan untuk menunjang proses produksi.
Namun, memasuki 2026, aktivitas produksi Abon Lele terhenti. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh keterbatasan dana usaha dan berkurangnya jumlah anggota yang terlibat dalam pengelolaan, yang kini berjumlah sekitar 14 orang.
Ketua kelompok UMKM Abon Lele, Niyati, mengatakan bahwa usaha tersebut sebelumnya dapat berjalan dengan baik. Namun, keterbatasan modal dan berkurangnya anggota membuat kegiatan produksi tidak lagi berjalan seperti sebelumnya.
“Sebenarnya dulu Abon Lele ini berjalan, anggotanya juga lumayan banyak. Tapi sekarang sudah berhenti karena terkendala dana dan orangnya juga sudah berkurang. Jadi dengan adanya pelatihan ini, kami jadi diingatkan lagi bagaimana mengelola usaha dengan baik, terutama soal uang usaha dan cara menjualnya,” tutur Niyati.
Melihat kondisi tersebut, Kelompok 113 KKN Kolaborasi merancang pelatihan yang berfokus pada dua aspek utama, yakni manajemen usaha melalui pembukuan sederhana dan pemasaran melalui digital marketing. Materi disusun agar mudah dipahami dan dapat diterapkan oleh para pengelola ketika UMKM kembali menjalankan kegiatan produksi.
Pada sesi manajemen usaha, mahasiswa memperkenalkan konsep pembukuan sederhana kepada peserta. Materi yang diberikan meliputi pencatatan pemasukan dan pengeluaran, stok barang, nota atau bukti transaksi, penjualan, piutang dan utang, hingga penghitungan keuntungan dan kerugian.
Materi tersebut disampaikan oleh Arkan Jauza Firdaus, mahasiswa Program Studi Manajemen Dakwah. Ia menekankan bahwa pembukuan usaha dapat dimulai dengan cara sederhana menggunakan peralatan yang telah tersedia di rumah.
“Pembukuan usaha tidak harus rumit. Ibu-ibu bisa memulainya dari hal sederhana, yaitu mencatat setiap uang yang masuk dan keluar menggunakan buku dan pulpen. Dengan begitu, kita bisa mengetahui kondisi keuangan usaha dan melihat apakah usaha kita mendapatkan keuntungan atau justru mengalami kerugian,” ujar Arkan.
Peserta juga diberikan pemahaman mengenai pentingnya memisahkan keuangan usaha dan keuangan pribadi. Selain itu, sebagian keuntungan dapat disisihkan untuk menjadi modal produksi berikutnya. Pencatatan secara rutin juga ditekankan agar pengelola dapat mengetahui perkembangan kondisi keuangan usaha dengan lebih mudah.
Setelah sesi manajemen usaha, pelatihan dilanjutkan dengan materi digital marketing yang disampaikan oleh Mela Sukma Hildayanti, mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah. Mela memperkenalkan sejumlah media yang dapat dimanfaatkan untuk memasarkan produk, seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, TikTok, dan Shopee.
Dalam sesi tersebut, peserta juga diperkenalkan pada sejumlah aspek dasar pemasaran digital, mulai dari menentukan target pembeli, mengambil foto produk, membuat ide konten, hingga menyusun promosi sederhana. Mahasiswa mendorong peserta untuk memanfaatkan telepon seluler yang telah dimiliki sebagai langkah awal dalam memperluas jangkauan pemasaran.
“Kalau biasanya Abon Lele hanya ditawarkan ke orang-orang sekitar, dengan media digital kita bisa mengenalkan produk ini ke lebih banyak orang. Tidak harus langsung menggunakan cara yang sulit, ibu-ibu bisa mulai dari HP yang sudah dimiliki, misalnya dengan membuat foto produk yang menarik dan membagikannya melalui WhatsApp atau platform lainnya,” jelas Mela.
Tidak berhenti pada penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik langsung. Para peserta mencoba memotret produk, menuliskan nama dan deskripsi produk, membuat status WhatsApp, menyusun video promosi singkat, hingga mengunggah produk ke Shopee.
Praktik tersebut menjadi pengalaman baru bagi sebagian pengelola UMKM Abon Lele yang selama ini lebih banyak memasarkan produk kepada masyarakat di sekitar. Niyati mengaku bahwa setelah mendapatkan pendampingan, pemasaran melalui media digital terasa lebih mudah untuk dilakukan.
“Kalau jualan lewat HP tadi ternyata tidak sesulit yang saya kira. Selama ini kami paling menawarkan ke tetangga atau orang yang sudah kenal. Nanti kalau sudah produksi lagi, insyaallah kami coba jual lewat WhatsApp atau Shopee juga, siapa tahu bisa sampai ke luar kota,” ungkap Niyati.
Antusiasme serupa juga disampaikan salah satu peserta lainnya. Ia mengaku memperoleh pengetahuan baru setelah mengikuti praktik pemasaran digital dan mengetahui bahwa pemasaran produk dapat dilakukan hanya dengan menggunakan telepon seluler.
“Ternyata gampang ya jualan lewat HP. Saya kira harus bisa komputer atau macam-macam, ternyata cukup pakai HP. Bisa foto Abon Lele, terus dimasukkan ke Shopee. Jadi nanti kalau sudah produksi lagi, kami bisa coba jual lewat situ juga,” tuturnya.
Melalui kegiatan tersebut, Kelompok 113 KKN Kolaborasi berharap pengetahuan mengenai pembukuan sederhana dan pemasaran digital dapat menjadi bekal bagi pengelola UMKM Abon Lele untuk mempersiapkan kembali kegiatan produksi. Kemampuan mengelola keuangan secara tertata dan memperluas pemasaran diharapkan dapat membantu usaha tersebut berkembang secara lebih berkelanjutan.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk kontribusi mahasiswa KKN dalam mendampingi masyarakat mengembangkan potensi ekonomi lokal. Dengan penguatan kapasitas pengelola dan pemanfaatan teknologi digital, UMKM Abon Lele Pringtutul diharapkan dapat kembali berkembang dan memperkenalkan produk lokal Desa Pringtutul kepada pasar yang lebih luas.
Penulis: Aprilia Dwi Mulyanti
Editor: Annisa Khafi Rabbani

