Cegah Bullying Sejak Dini, KKN Kolaborasi PTKIN 111 Ajak Siswa SDN 1 Kretek Bangun Sekolah Ramah Anak
Cegah Bullying Sejak Dini, KKN Kolaborasi PTKIN 111 Ajak Siswa SDN 1 Kretek Bangun Sekolah Ramah Anak

Screenshot 2026-08-11 145343

Kretek, BERITA PPM Online – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaborasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) Kelompok 111 menggelar Sosialisasi Anti-Bullying di SD Negeri 1 Kretek, Desa Kretek, Kecamatan Rowokele, Kabupaten Kebumen, pada Sabtu (1/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi upaya mahasiswa dalam meningkatkan pemahaman siswa mengenai perundungan sekaligus mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang aman dan ramah bagi seluruh peserta didik.

Kelompok 111 KKN Kolaborasi PTKIN terdiri atas mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sosialisasi diikuti oleh 95 siswa kelas IV, V, dan VI SD Negeri 1 Kretek. Kegiatan ini bertujuan mengenalkan berbagai bentuk perundungan, dampak yang dapat ditimbulkan, serta pentingnya membangun sikap saling menghormati dan peduli terhadap sesama.

Sosialisasi Anti-Bullying merupakan bagian dari Program KKN Kolaborasi PTKIN Saizu Berdampak Angkatan ke-58 yang berfokus pada layanan umat, khususnya penguatan karakter peserta didik di lingkungan sekolah. Kegiatan dikemas secara interaktif melalui diskusi, sesi tanya jawab, permainan edukatif, serta penyampaian contoh kasus yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.

Pendekatan tersebut digunakan agar peserta didik tidak hanya memahami bullying secara teori, tetapi juga mampu mengenali tindakan perundungan yang mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa menjelaskan bahwa tindakan yang awalnya dianggap sebagai candaan dapat berubah menjadi perundungan apabila menimbulkan rasa takut, malu, atau menyakiti orang lain.

Koordinator Kelompok 111 KKN Kolaborasi PTKIN menyampaikan bahwa pencegahan perundungan perlu dilakukan sejak dini. Menurutnya, sekolah merupakan ruang yang seharusnya memberikan rasa aman bagi setiap anak sehingga seluruh warga sekolah memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang bebas dari perundungan.

“Kami berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan kesadaran bahwa setiap siswa memiliki tanggung jawab untuk saling menghargai, berani menghentikan tindakan perundungan, dan tidak menjadi penonton ketika melihat temannya diperlakukan tidak baik. Membangun lingkungan sekolah yang aman dimulai dari kepedulian setiap individu,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, siswa mendapatkan materi mengenai pengertian bullying, bentuk-bentuk perundungan, serta dampak yang dapat dirasakan baik oleh korban maupun pelaku. Selain itu, mahasiswa juga menjelaskan langkah-langkah yang dapat dilakukan siswa ketika mengalami atau menyaksikan tindakan perundungan.

Materi disampaikan dengan menggunakan contoh yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Cara tersebut membuat siswa lebih mudah menghubungkan materi dengan situasi yang mungkin mereka temui dalam lingkungan sekolah maupun pergaulan sehari-hari.

Antusiasme siswa terlihat selama kegiatan berlangsung. Peserta aktif mengikuti sesi diskusi dan tanya jawab serta terlibat dalam permainan edukatif yang diberikan mahasiswa. Banyaknya pertanyaan yang disampaikan menunjukkan ketertarikan siswa untuk memahami lebih jauh mengenai tindakan perundungan dan cara mencegahnya.

Di akhir kegiatan, peserta diajak menyampaikan komitmen bersama untuk menciptakan lingkungan belajar yang saling menghargai, aman, dan bebas dari perundungan. Komitmen tersebut menjadi bagian dari upaya menanamkan kesadaran bahwa menciptakan sekolah yang ramah anak bukan hanya menjadi tanggung jawab guru atau pihak sekolah, tetapi juga membutuhkan keterlibatan setiap peserta didik.

Bagi mahasiswa KKN Kolaborasi PTKIN Kelompok 111, edukasi mengenai pencegahan bullying menjadi salah satu bentuk kontribusi dalam membangun karakter peserta didik. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa berupaya mendorong siswa untuk memiliki keberanian dalam bersikap, meningkatkan empati, menghargai perbedaan, serta tidak membiarkan tindakan perundungan terjadi di lingkungan sekitar.

Program ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi. Pihak sekolah diharapkan dapat terus memperkuat pembiasaan perilaku positif, melakukan pengawasan secara berkelanjutan, serta membangun kerja sama antara guru, orang tua, dan peserta didik dalam mencegah perundungan.

Melalui Sosialisasi Anti-Bullying, KKN Kolaborasi PTKIN Kelompok 111 berharap dapat memberikan kontribusi dalam membangun budaya sekolah yang inklusif dan ramah anak. Edukasi mengenai perundungan diharapkan menjadi langkah awal dalam membentuk peserta didik yang memiliki empati, mampu menghargai perbedaan, dan turut menciptakan lingkungan belajar yang nyaman bagi semua.

Dengan menanamkan keberanian untuk peduli dan menghentikan tindakan perundungan sejak dini, siswa SD Negeri 1 Kretek diharapkan dapat menjadi bagian dari terciptanya lingkungan sekolah yang aman, saling menghargai, dan bebas dari bullying.

Penulis: Fara Diva Clara Syailendra
Editor: Annisa Khafi Rabbani