Bukan Sekadar Bercanda, KKN ISWARA 199 UIN Jakarta Ajak Siswa SDN 01 Iwul Kenali dan Cegah Bullying
Bukan Sekadar Bercanda, KKN ISWARA 199 UIN Jakarta Ajak Siswa SDN 01 Iwul Kenali dan Cegah Bullying

Iwul, BERITA PPM ONLINE - Sebuah ejekan yang dianggap sebagai candaan dapat menjadi persoalan ketika membuat orang lain merasa tertekan. Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam sosialisasi anti-bullying yang digelar Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) ISWARA 199 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bersama siswa kelas 5 dan 6 SDN 01 Iwul, Desa Iwul, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor, Kamis (20/8/2026).

Kegiatan ini melibatkan hampir seluruh anggota KKN ISWARA 199 yang bertugas. Sosialisasi tidak hanya diisi dengan pemaparan materi, tetapi juga mengajak siswa mengenali bentuk-bentuk bullying melalui praktik, menjelaskan kembali materi di depan kelas, serta menuliskan kesan dan pesan setelah kegiatan.

Pemahaman mengenai perbedaan antara candaan dan bullying menjadi salah satu perhatian dalam penyampaian materi. Mahasiswa KKN menjelaskan bahwa interaksi antarsiswa yang dianggap sebagai candaan tetap perlu memperhatikan dampaknya terhadap orang lain. Ketika suatu tindakan dilakukan berulang, menyakiti, merendahkan, atau membuat seseorang merasa tidak aman, perilaku tersebut tidak lagi dapat dianggap sebagai candaan semata.

Menurut Mutiara Agis, salah satu anggota inti KKN ISWARA 199 sekaligus narasumber dalam kegiatan, sosialisasi anti-bullying bertujuan membangun kesadaran siswa mengenai dampak perundungan, termasuk dampak fisik dan psikis yang dapat dialami korban.

“Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kesadaran siswa tentang bahaya bullying dan dampaknya, baik secara fisik maupun psikis. Kami ingin mengedukasi siswa agar bisa membedakan antara bercanda dan bullying, berani melapor jika menjadi korban atau saksi, dan menumbuhkan budaya saling menghargai di lingkungan sekolah. Harapannya sekolah bisa menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk belajar,” ujar Mutiara Agis.

Setelah pemaparan materi, siswa diajak melihat praktik beberapa situasi yang menggambarkan jenis-jenis bullying. Mahasiswa KKN mendampingi jalannya praktik sekaligus memberikan penjelasan agar siswa memahami bahwa adegan yang diperagakan merupakan contoh perilaku yang tidak boleh ditiru.

Pendekatan tersebut membuat pembahasan bullying lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari siswa. Setelah praktik, beberapa siswa diminta maju ke depan kelas untuk melakukan review mengenai materi yang telah diberikan.

Para siswa menjelaskan kembali pemahaman mereka mengenai bullying, termasuk contoh perilaku perundungan dan tindakan yang dapat dilakukan ketika menjadi korban ataupun saksi. Siswa yang berani tampil dan mampu menjelaskan kembali materi diberikan hadiah sebagai bentuk apresiasi.

Keterlibatan siswa dalam sesi tersebut menunjukkan bahwa pembahasan anti-bullying tidak hanya ditempatkan sebagai materi yang harus didengar, tetapi juga sebagai persoalan yang perlu dipahami dan direspons oleh siswa sendiri.

Upaya mencegah bullying juga tidak berhenti pada siswa. Mutiara Agis menilai lingkungan sekolah memiliki peran penting dalam memastikan tindakan perundungan dapat dikenali dan ditangani. Guru menjadi salah satu pihak yang memiliki posisi strategis karena berinteraksi langsung dengan siswa setiap hari dan dapat melihat perubahan perilaku maupun hubungan antarsiswa di kelas.

“Kami melihat guru dan sekolah punya peran yang sangat penting dan sentral. Guru adalah orang yang paling dekat dan paling cepat melihat tanda-tanda bullying di kelas. Sekolah bertugas membuat aturan yang jelas, memberikan sanksi tegas, sekaligus ruang aman untuk siswa melapor,” kata Mutiara Agis.

Menurutnya, pencegahan bullying membutuhkan keterlibatan sekolah secara berkelanjutan. Edukasi mengenai bullying perlu disertai dengan pengawasan serta keteladanan dari orang dewasa di lingkungan sekolah.

“Menurut kami, pencegahan paling efektif itu kalau guru jadi role model, aktif mengawasi, dan sekolah rutin mengadakan edukasi seperti ini. Tanpa dukungan guru dan sekolah, program anti-bullying tidak akan jalan,” lanjutnya.

Pada bagian akhir materi, mahasiswa KKN ISWARA 199 menyampaikan pesan kepada tiga pihak yang dapat berada dalam situasi bullying, yaitu korban, pelaku, dan saksi.

“Pesan utama kami: ‘Bullying bukan hal keren. Diam bukan solusi.’ Untuk korban: kamu tidak sendirian. Berani cerita ke guru, orang tua, atau teman yang dipercaya. Untuk pelaku: kuat itu bukan menindas. Setiap tindakan ada konsekuensinya. Untuk saksi: jangan jadi penonton. Menolong atau melapor itu bentuk keberanian,” ujar Mutiara Agis.

Pesan tersebut kemudian dilanjutkan melalui sesi refleksi. Setiap siswa diberikan sticky notes untuk menuliskan kesan dan pesan setelah mengikuti sosialisasi, termasuk pengalaman yang pernah mereka alami terkait perundungan. Tulisan siswa kemudian ditempelkan pada Smart TV sekolah sebagai media untuk mengumpulkan refleksi mereka.

Bagi siswa, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk menyampaikan kembali pemahaman yang diperoleh dari materi anti-bullying. Sementara bagi mahasiswa KKN, rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari edukasi mengenai pentingnya membangun interaksi yang saling menghargai di lingkungan sekolah.

Sosialisasi anti-bullying di SDN 01 Iwul pada akhirnya tidak hanya membahas posisi sebagai pelaku dan korban. Siswa juga diajak memahami peran sebagai saksi serta pentingnya mengambil tindakan ketika melihat temannya mengalami perundungan. Dengan demikian, pencegahan bullying ditempatkan sebagai tanggung jawab bersama yang melibatkan siswa, guru, dan seluruh lingkungan sekolah.

Penulis: Anis Humaira
Editor: Vanessa Nindi Utama

WhatsApp Image 2026-08-31 at 11.45.57