Bantu Ketahanan Pangan, KKN Aksara Bhumi 189 UIN Jakarta Hadirkan Inovasi Hidroponik Pakcoy di Leuwisadeng

Leuwisadeng, Berita PPM Online – Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang tergabung dalam Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok Aksara Bumi 189 sukses menginisiasi program inovasi pertanian modern di Desa Leuwisadeng. Melalui instalasi sistem pertanian berbasis hidroponik, program ini diharapkan mampu menjadi solusi cerdas bagi warga dalam mengelola budidaya tanaman secara sederhana dan berkelanjutan.
Ketua Kelompok KKN Aksara Bumi 189, Alif Rangga, menuturkan bahwa pemilihan hidroponik sebagai program kerja unggulan didasarkan pada pembacaan potensi lingkungan dan masyarakat di Desa Leuwisadeng.
"Kami memilih program hidroponik karena melihat potensi yang dimiliki Desa Leuwisadeng untuk mengembangkan budidaya tanaman secara sederhana. Hidroponik juga tidak membutuhkan lahan yang luas dan perawatannya relatif mudah. Ini dapat menjadi alternatif bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sayur sehat sekaligus membuka peluang usaha kecil," jelas Alif.
Untuk uji coba perdana, kelompok mahasiswa menyemai bibit sayuran jenis pakcoy pada instalasi yang telah dirakit. Menurut Alif, masa panen sayuran tersebut rata-rata berkisar antara 30 hingga 45 hari setelah pindah tanam, bergantung pada perawatannya. "Dengan perawatan yang baik, insyaallah warga dapat menikmati hasil panennya dalam waktu sekitar satu bulan," tambahnya.
Inovasi yang dihadirkan oleh mahasiswa ini mendapat respons positif dan sambutan antusias dari warga setempat. Salah satu tokoh masyarakat Desa Leuwisadeng menyampaikan rasa syukurnya atas program yang ditinggalkan oleh para mahasiswa.
"Alhamdulillah, kami sangat menerima kehadiran adik-adik KKN ini. Instalasi tanamannya juga bisa diterima dengan baik. Mudah-mudahan ke depannya bisa terus maju, berkembang, dan nanti kalau sudah maju kemungkinan hasilnya bisa dijual," ungkap Pak Sholeh Ketua RT 05 saat diwawancarai.
Lebih lanjut, warga menilai bahwa metode tanam hidroponik sangat praktis untuk diaplikasikan secara mandiri. "Alhamdulillah mudah untuk dipraktikkan, tanaman ini tidak terlalu susah. Yang penting kita ada modalnya. Apalagi masyarakat di sini memang pada dasarnya senang dengan kegiatan pertanian," tambahnya.
Meski mendapatkan dukungan penuh dari warga, proses realisasi program ini bukan tanpa kendala. Alif menceritakan bahwa tahapan merakit instalasi menjadi tantangan tersendiri yang paling berkesan bagi timnya. "Kami harus memastikan setiap bagian pipa terpasang dengan benar agar aliran air dan nutrisi dapat bekerja secara optimal untuk tanaman. Selain itu, saat kegiatan sosialisasi kami juga harus berusaha meramu penyampaian materi dengan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami oleh seluruh warga sekitar," tuturnya.
Dukungan penuh terhadap realisasi program ini juga datang dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Kelompok Aksara Bumi 189, Dr. Riris Aishah Prasetyowati SE., MM. Ia mengapresiasi inisiatif mahasiswa dan menilai program ini memiliki dampak positif yang signifikan bagi masyarakat sasaran.
"Program penanaman hidroponik ini merupakan langkah yang sangat baik karena tidak hanya memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai teknik bercocok tanam modern, tetapi juga mendorong pemanfaatan lahan yang terbatas secara lebih produktif," tegasnya.
Ia juga berpesan agar fasilitas yang telah dibangun dapat dikelola secara mandiri oleh masyarakat. "Harapannya, program ini dapat terus dirawat dan dikembangkan oleh warga sehingga manfaatnya tidak berhenti setelah kegiatan KKN selesai," pungkasnya.
Melalui sinergi yang terbangun antara mahasiswa KKN, pihak kampus, dan masyarakat, warga menaruh harapan agar fasilitas hidroponik ini dapat terus dijaga ke depannya. Program ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai tugas pengabdian kampus, melainkan terus tumbuh menjadi fondasi ketahanan pangan dan ekonomi kreatif bagi masyarakat Desa Leuwisadeng.
Penulis: Aura Ambia
Editor: Vanessa Nindi Utama

