Atasi Persoalan Sampah, KKN Iswara 199 Gandeng Pemuda Desa Iwul Bangun Insinerator
Iwul, BERITA PPM Online — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Iswara 199 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bersama pemuda Desa Iwul membangun insinerator sederhana sebagai salah satu alternatif pengelolaan sampah rumah tangga, Minggu (2/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa dalam merespons persoalan sampah yang ditemui selama menjalankan pengabdian di Desa Iwul.
Pembuatan insinerator dilatarbelakangi oleh kondisi pengelolaan sampah di Desa Iwul yang masih menghadapi keterbatasan tempat pembuangan. Ketua KKN Iswara 199, Bagus Jelang Ramadhan, menjelaskan bahwa sebagian warga masih membakar sampah rumah tangga di sekitar rumah karena belum tersedianya tempat pembuangan sampah umum.
“Di Desa Iwul, permasalahan yang paling krusial adalah sampah. Hampir setiap rumah masih membakar sampahnya di depan rumah karena tidak memiliki tempat pembuangan sampah umum,” ujar Bagus.
Selain persoalan tempat pembuangan, keterbatasan lahan turut menjadi pertimbangan dalam menentukan alternatif pengelolaan sampah. Menurut Bagus, insinerator sederhana dipilih karena bahan pembuatannya relatif mudah diperoleh serta tidak membutuhkan area yang luas.
“Kami memilih insinerator sederhana karena bahan bakunya mudah didapat dan cara pembuatannya maupun penggunaannya juga sederhana. Selain itu, penggunaan insinerator juga relatif hemat lahan karena tidak membutuhkan area yang besar, sementara sampah yang dapat ditangani cukup banyak,” katanya.
Pembangunan insinerator dilakukan melalui kolaborasi antara mahasiswa KKN Iswara 199 dan pemuda Desa Iwul. Pelibatan pemuda menjadi bagian penting dari program agar masyarakat tidak hanya menerima hasil akhir, tetapi juga mengetahui proses pembuatan serta penggunaan fasilitas tersebut.
Proses pengerjaan dimulai pukul 08.00 WIB dan selesai sekitar pukul 14.00 WIB. Mahasiswa dan pemuda desa menggunakan sejumlah material seperti hebel, besi, lem perekat hebel, cat, serta bahan pendukung lainnya yang diperoleh dari toko bangunan di wilayah Kecamatan Parung.
Bagus menjelaskan bahwa keterlibatan pemuda desa juga berkaitan dengan keberlanjutan program setelah masa KKN berakhir. Dengan memahami proses pembuatan dan penggunaan insinerator, pemuda diharapkan dapat meneruskan pengetahuan tersebut apabila fasilitas serupa dibutuhkan di titik lain.
“Kami melibatkan pemuda sebagai bentuk regenerasi yang ada di desa. Kalau mereka tidak dilibatkan, mereka tidak akan tahu bagaimana cara menggunakan maupun membuat insinerator ini. Apabila insinerator ini memberikan dampak positif, masyarakat atau pemuda nantinya dapat membuat insinerator di titik-titik lain,” jelasnya.
Pelibatan pemuda membuat pengetahuan mengenai pembuatan dan penggunaan alat tidak berhenti pada mahasiswa KKN. Dengan demikian, warga memiliki pihak lokal yang dapat memahami proses tersebut dan berpotensi meneruskannya sesuai kebutuhan masyarakat.
Meski demikian, insinerator tidak dimaksudkan sebagai satu-satunya solusi dalam menangani persoalan sampah. Pengelolaan sampah tetap membutuhkan kesadaran masyarakat untuk mengurangi, memilah, dan memperhatikan jenis sampah yang dapat ditangani melalui proses pembakaran.
KKN Iswara 199 juga berharap keberadaan fasilitas tersebut dapat membantu mengurangi kebiasaan pembakaran sampah secara terbuka di sekitar rumah. Pembakaran terbuka dapat menghasilkan asap dan emisi yang berpotensi mengganggu lingkungan apabila dilakukan tanpa pengelolaan yang tepat.
“Semoga insinerator ini bisa dijadikan sebagai percontohan dan memberikan dampak yang positif serta bermanfaat bagi masyarakat Desa Iwul. Kami juga berharap masyarakat tidak lagi membakar sampah secara sembarangan, terutama secara terbuka di depan rumah masing-masing,” ujar Bagus.
Pembuatan insinerator diselesaikan dalam satu hari dan kemudian menjadi salah satu fasilitas yang dapat dimanfaatkan masyarakat dalam upaya pengelolaan sampah. Lebih dari sekadar menghasilkan fasilitas fisik, program ini juga menjadi ruang transfer pengetahuan antara mahasiswa dan pemuda desa.
Melalui program tersebut, KKN Iswara 199 menunjukkan bahwa persoalan sampah membutuhkan keterlibatan bersama. Mahasiswa berperan dalam memperkenalkan dan membangun alternatif pengelolaan, sementara masyarakat memiliki peran penting dalam penggunaan, pengawasan, serta keberlanjutan fasilitas setelah masa pengabdian berakhir.
Penulis: Anis Humaira
Editor: Annisa Khafi Rabbani

