Pertemuan LP2M PTKIN se-Indonesia 2-4 Maret 2017

Untuk meningkatkan jaringan kerjasama antara LP2M di lingkungan PTKIN se-Indonesia, tanggal 2-4 Maret 2017 lalu bertempat di Swisbelinn Lebak Bulus, LP2M UIN Syarif HIdayatullah Jakarta menyelenggarakan pertemuan dengan tema Workshop on Knowledge Sharing. Pertemuan ini dibuka oleh Direktur Pendidikan Tinggi Islam (Diktis) Kemenag yang baru, Prof. Dr H. Nizar, M.Ag. dan juga dihadiri oleh Wakil Rektor IV bidang Kerjasama dan Kelembagaan UIN Syarif Hidayatullah, Prof. Dr Murodi, M.Ag, serta Kasubdit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Diktis Kemenag, Dr Muhammad Zain.

Pertemuan yang diikuti oleh sekitar 38 peserta dari 24 LP2M/P3M di lingkungan PTKIN se-Indonesia ini bermaksud berbagi pengalaman terbaik (best practice) dalam menyelenggarakan kegiatan seputar riset dan publikasi. Ada 3 (tiga) show case yang dipaparkan pada hari Jumat tanggal 3 Maret 2014. Case pertama disajikan oleh UIN Bandung tentang upaya peningkatan jumlah hak cipta (HKI) di tahun 2016 yang mencapai lebih dari 50 buah. Case kedua dipresentasikan oleh UIN Jakarta mengenai strategi peningkatan jumlah publikasi terindeks Scopus melalui penyelenggaraan 12 kegiatan konferensi internasional berprosiding terindeks pada tahun 2017. Caseketiga disampaikan oleh STAIN Kudus terkait prestasi dan kemampuan 5 (lima) buah jurnal di lingkungan STAIN Kudus pada tahun 2016 lalu yang berhasil memperoleh status terakreditasi nasional oleh Kemristekdikti.

Dalam pertemuan pimpinan LP2M PTKIN yang berlangsung 2 (dua) malam itu juga berhasil menyimpulkan beberapa hal untuk tindak lanjut kegiatan berikutnya berupa antara lain:

Pertama, untuk model pelaksanaan penelitian pada tahun 2017 dan bentuk pertanggungjawaban keuangan sepenuhnya diserahkan kepada masing-masing instansi apakah akan menerapkan pola terbaru berdasarkan PMK 106/2016 ataupun menggunakan pola model sebelumnya.

Kedua, dipikirkan untuk melakukan pengembangan tema-tema riset yang dikerjakan secara bersama-sama, mulai dari tema sejarah Islam lokal hingga tema Islam sosial kontemporer. Ini sejalan dengan keinginan sebagian peserta yang menginginkan melakukan upaya elaborasi lebih lanjut salah satu dari 8 (delapan) agenda riset nasional Bidang Sosial Humaniora, Seni Budaya dan Pendidikan, yang mana fokus utama riset-riset di PTKIN pada umumnya hanya merupakan sub dalam bidang ini.

Ketiga, disepakati untuk melaksanakan kegiatan KKN Bersama dengan nama KKN Nusantara. Pelaksanaannya dimungkinkan pada tahun 2017 ini oleh PTKIN yang sudah siap mengalokasikan anggaran. Meski begitu, dibutuhkan sebuah petunjuk teknis (Juknis) yang akan mengatur mekanisme kegiatan tersebut sehingga dapat berjalan baik. Juknis ini memuat antara lain pemetaan potensi daerah garapan, kapasitas dan respon Pemda setempat, pemilihan model KKN berbasis riset, metode pelatihan pra-kegiatan dan juga kemungkinan penerapan sistem BCR dan ABCD dalam pelaksanaan kegiatan KKN Bersama itu.

PTKIN di Sulawesi Selatan, UIN Alauddin Makassar dan STAIN Watampone, menyatakan kesediaan untuk menjadi tuan rumah untuk pertemuan LP2M PTKIN berikutnya yang akan membahas penyusunan Juknis tersebut, khususnya untuk mempersiapkan rencana pelaksanaan kegiatan KKN Nusantara pada tahun 2018 sehingga memungkinkan keikutsertaan PTKIN lainnya yang berminat. Pertemuan lanjutan yang direncanakan paling cepat dapat dilakukan pada bulan April 2017 itu diagendakan untuk membahas beberapa isu dan agenda lain yang aktual, termasuk ide pengembangan jurnal pengabdian dan juga sistem aplikasi berbasis IT yang memudahkan pertukaran naskah artikel di antara para pengelola jurnal di lingkungan PTKIN.